Burung dipermukaan tanah, pemakan biji-bijian dan serangga

Burung puyuh merupakan
unggas berbadan kecil namun gemuk dengan ekor yang pendek. Bersarang
dipermukaan tanah, pemakan biji-bijian dan serangga kecil, dapat berlari dan
terbang dengan cepat namun dengan jarak yang pendek. Burung puyuh yang umum
dipelihara di indonesia adalah burung puyuh jenis Coturnix – coturnix japonica yang pada awalnya diimpor dari cina
dan jepang. Berwarna kuning kecoklatan, paruh yang pendek dan kuat, berbadan
bulat dan berekor pendek (Achmad, 2011).

Burung puyuh liar banyak terdapat di dunia,
nampaknya hanya baru Coturnix – coturnix japonica yang mendapat perhatian dari para ahli. Menurut Nugroho dan
Mayun (1986) dalam Setiawan (2006) beberapa ratus tahun yang lalu yaitu pada
tahun 1890-an di Jepang telah diadakan penjinakan terhadap burung puyuh
tersebut. Burung puyuh (Coturnix coturnix japonica) memiliki klasifikasi menurut Pappas
( 2002 ) sebagai berikut:

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

kingdom          :
Animalia

filum                :
Chordata

class                 :
Aves

ordo                 :
Gallivormes

subordo           :
Phasianoidea

famili               :
Phasianidae

sub-famili        :
Phasianinae

genus              : Coturnix

spesies             : Coturnix coturnix japonica

Burung puyuh biasanya
banyak bersembunyi di semak-semak, sawah atau perladangan. Burung pemakan
biji-bijian ini mempunyai warna bulu beragam, biasanya warna – warna tersebut
sangat adaptif yang berfungsi untuk kamuflase dari musuhnya. Burung puyuh lebih
memanfaatkan kakinya untuk berlari dan sembunyi di semak dibandingkan dengan
terbang.  

Gambar 2.1. Burung Puyuh (Coturnix-coturnix japonica)

(Astriana,
2013)

 

            Puyuh merupakan salah satu
spesies burung yang berasal dari genus Coturnix, dan merupakan salah satu jenis unggas yang telah mengalami
domestikasi. Puyuh terdiri dari beberapa jenis diantaranya adalah puyuh Japonica
(Coturnix coturnix japonica). Puyuh merupakan jenis burung yang tidak
dapat terbang tinggi, ukuran tubuhnya relatif kecil dan berkaki pendek. Puyuh
adalah jenis burung pemakan biji-bijian dan memiliki warna bulu bercak-bercak
coklat yang menyerupai warna tanah. Puyuh dapat 
bergerak dengan lincah dan memiliki kemampuan berkamuflase untuk
bersembunyi dari predator (Subekti
dan Dewi, 2013).

Menurut Nugroho dan Mayun (1986) dalam Setiawan
(2006) ciri-ciri dari burung puyuh (Coturnix coturnix japonica) adalah :

o  
Bentuk tubuhnya lebih besar dari burung
puyuh yang lain, badannya bulat, ekornya pendek, paruhnya pendek dan kuat, tiga
jari kaki menghadap ke muka dan satu jari kaki ke arah belakang;

o  
Pertumbuhan bulunya lengkap setelah
berumur dua sampai tiga minggu

o  
Jenis kelamin dapat dibedakan
berdasarkan warna bulu, suara dan berat badannya

o  
Burung puyuh jantan dewasa bulu dadanya
berwarna merah sawo matang tanpa adanya belang serta bercak-bercak hitam

o  
Burung puyuh betina dewasa bulu dadanya
berwarna merah sawo matang dengan garis-garis atau belang-belang hitam

o  
Suara burung puyuh jantan lebih keras

o  
Burung betina dapat berproduksi sampai
200-300 butir setiap tahun. Berat telurnya sekitar 10 g/butir atau 7%-8% dari
berat badan.

 

2.2 Pakan

            Pakan
merupakan campuran berbagai bahan makanan yang diberikan kepada ternak untuk
memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan,
perkembangan dan reproduksinya. Pemilihan bahan pakan yang tepat akan
menghasilkan pakan yang mempunyai kualitas yang mampu memenuhi kebutuhan ternak
(Sjofjan, 2008).

Burung puyuh mempunyai 2 fase pemeliharaan yaitu fase pertumbuhan
dan
fase produksi (bertelur). Fase pertumbuhan dibagi menjadi 2 fase yaitu starter (0-3 minggu), grower (3-5 minggu) dan fase produksi (umur diatas 5 minggu).
Anak burung puyuh yang baru berumur 0-3 minggu membutuhkan protein 25%
dan
energi metabolisme 2900 kkal/kg. Pada umur 3-5 minggu kadar protein dikurangi menjadi 20% dan energi metabolisme 2600 kkal/kg. Burung  puyuh
lebih dari 5 minggu kebutuhan energi dan protein sama dengan kebutuhan energi
pada protein umur 3-5 minggu (Listiyowati dan Roospitasari, 2000).

2.3 Kangkung Darat (Ipomoea
reptans Poir)

            Kangkung (Ipomoea reptans Poir) merupakan tanaman
yang berasal dari famili convolvulaceae. Famili Convolvulaceae berupa herba
atau semak berkayu, kebanyakan merayap atau membelit, daun tunggal, dudukan
tersebar tanpa daun penumpu. Familia ini memiliki sekitar 50 genera dan lebih
dari 1200 spesies, dimana 400 spesies diantaranya termasuk dalam genus Ipomoea.
Tumbuhan ini kebanyakan tumbuh di daerah tropis dan subtropis, beberapa tumbuh
di daerah sedang. Yang paling terkenal dari genus Ipomoea adalah (Ipomoea reptans Poir) dan kangkung air (Ipomoea aquatica Forsk) (Lawrence, 1951
dalam Suratman dkk, 2000).

            Kangkung darat memiliki ciri-ciri
daun yang agak runcing, warna hijau keputih-putihan, bunga berwarna putih dan
daun yang panjang. Kangkung merupakan tanaman menetap yang dapat bertahan lebih
dari satu tahun, dapat hidup di dataran rendah sampai dataran tinggi 2000 mil
diatas permukaan laut (Rukmana, 1994).

Klasifikasi kangkung
darat menurut Tenriawaru (2016) :

Kingdom         : Plantae

Divisio             : Spermatophyta

Sub-divisio      : Angiospermae

Kelas               : Dicotyledonae

Famili              : Convolvulaceae

Genus              : Ipomoea

Spesies
           : Ipomoea reptans Poir

Gambar 2.3 Kangkung Darat

(Bernas dkk., 2012)

Kangkung
darat (Ipomoea reptans Poir)
merupakan sayuran yang bernilai ekonomi dan persebarannya meluas cukup pesat di
daerah Asia Tenggara. Beberapa negara yang merintis pembudidayaan tanaman
kangkung secara intensif dan komersial adalah Taiwan, Thailand, Filipina, dan
Indonesia. Kangkung darat umumnya dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan
dapat menjadi salah satu menu di rumah-rumah makan, Kangkung darat merupakan
tanaman yang relatif tahan kekeringan dan memiliki daya adaptasi luas terhadap
berbagai keadaan lingkungan tumbuhan, mudah pemeliharaannya, dan memiliki masa
panen yang pendek. Umumnya tanaman kangkung darat hanya ditanam dilahan
pekarangan dan sebagian kecil yang ditanam secara intensif di lahan kering,
sehingga optimalisasi produksi kangkung masih kurang. Kangkung memiliki
kandungan gizi yang lengkap, diantaranya protein, lemak, karbohidrat, serat,
kalsium, fosfor, zat besi, natrium, kalium, vitamin A, B, C, dan karoten
(Rukmana, 1994).

2.3.1 Biji Kangkung Darat (Ipomoea reptans Poir)

            Benih
merupakan sarana produksi utama dalam budidaya tanaman karena dengan benih
bermutu dapat meningkatkan produksi. Benih bermutu secara ekonomi memberi nilai
tambah/manfaat bagi masyarakat/petani. Biji  kangkung yang digunakan dalam penelitian ini merupakan
waste product dari budidaya kangkung, biji kangkung yang tidak lolos seleksi
pabrik berpotensi dijadikan sumber alternatif pakan untuk memenuhi kebutuhan
ternak. Biji kangkung belum pernah dijadikan sebagai pakan ternak sehingga biji
kangkung dapat diperoleh dalam jumlah banyak. Biji kangkung yang tidak lolos
seleksi merupakan biji kangkung yang memiliki kualitas yang rendah dan tidak
dapat dijadikan benih, dalam satu kali produksi biji kangkung yang tidak lolos
seleksi dihasilkan cukup banyak sehingga kami mencoba memanfaatkan biji
kangkung sebagai alternatif bahan pakan untuk pakan puyuh. Berdasarkan hasil
uji proksimat biji kangkung, diperoleh : protein sebesar 13,46 %, serat 15.87%,
Ca 0,26 %, P 0,85 %  dan energi metabolit
sebesar 2.826 kkal. Berdasarkan kandungan tersebut maka biji kangkung
diharapkan dapat memenuhi kebutuhan puyuh dan dapat meningkatkan produktivitas
puyuh.

 

2.4 Sistem Pencernaan

Puyuh merupakan hewan
monogastrik yaitu hewan yang memiliki satu lambung. Saluran pencernaan puyuh
sama dengan hewan unggas lainnya. Proses pencernaan merupakan penguraian bahan
makanan menjadi zat-zat makanan dalam saluran pencernaan untuk dapat diserap
dan digunakan oleh jaringan tubuh (Djulardi dkk, 2006).

Gambar 2.4. Sistem
Pencernaan Puyuh, (a) Mulut, (b)
Tembolok, (c) Kerongkongan, (d) Proventrikulus, (e) Gizzard, (f) Usus Halus, (g)
Ceca, (h) Usus Besar, (i) Kloaka.

Menurut Suprijatna dkk
(2005) sistem pencernaan terdiri dari :

a)     
Mulut

Mulut
tidak memiliki lidah, pipi dan gigi. Langit-langitnya lunak tetapi memiliki
rahang atas dan bawah yang menulang untuk menutup mulut. Rahang atas melekat
pada pada tulag tengkorak dan rahang bawah bergantung. Kedua rahang berhubungan
sebagai paruh. Lidah berbentuk seperti pisau yang memiliki permukaan yang kasar
dibagian belakang untuk mendorong makanan ke esophagus.

b)     
Esophagus

Esophagus
atau kerongkongan berupa pipa tempat pakan melalui saluran ini dari bagian
belakang mulut ke proventriculus.

c)     
Crop (Tembolok)

Sebelum
kerongkongan memasuki rongga tubuh, ada sebuah bagian yang melebar disalah satu
sisinya menjadi kantong yang dinamakan crop (tembolok). Tembolok merupakan
tempat pencampuran pakan dengan sekresi saliva dari mulut yang dilanjutkan
aktivitasnya di tembolok.

d)    
Provetriculus

Proventriculus
adalah pelebaran dari kerongkongan yang terhubung dengan empedal atau gizzard.
Disini dihasilkan hidrocloric acid,
pepsin dan asam gastric yang membantu proses pencernaan. Didalam proventriculus
tidak ada pencernaan material pakan tetapi sekresi enzim pada bagian ini akan
dialirkan ke dalam gizzard.

e)     
Gizzard (Empedal)

Gizzard
berada dibagian atas usus halus, memiliki permukaan yang tebal. Biasanya
gizzard mengandung material yang dapat menggiling seperti grit, karang dan batu krikil. Partikel pakan akan segera dihiling
menjadi material yang lebih kecil agar mampu masuk kedalam usus halus.

f)      
Usus Halus

Usus
halus merupakan organ utama tempat berlangsungnya proses pencernaan dan
absorpsi produk pencernaan. Berbagai enzim yang masuk kedalam saluran ini
berfungsi untuk mempercepat dan mengefisiensikan pemecahan karbohidrat, protein
dan lemak untuk mempermudah proses absorpsi. Usus halus dibagi menjadi tiga
bagian yaitu duodenum, jejunum dan ileum.

g)     
Ceca (usus buntu)

Diantara
usus halus dan usus besar terdapat dua saluran yang bercabang yaitu ceca (usus
buntu). Dalam ceca, hanya sedikit air yang diserap, sedikit karbohidrat dan
protein dicerna berkat bantuan beberapa bakteri.

h)     
Usus Besar

Usus
besar bentuknya melebar dan terdapat pada bagian akhir usus halus yang
terhubung ke kloaka

i)       
Kloaka

Kloaka
berbentuk bulat dan terdapat pada bagian akhir saluran pencernaan. Kloaka
adalah saluran umum tempat saluran pencernaan dan reproduksi bermuara.

 

2.5 Usus Halus

            Menurut Yuwanta (2004)  Usus halus terbagi
kedalam 3 bagian yaitu duodenum, jejunum dan ileum. Duodenum terdapat dibagian
atas usus halus, pada bagian ini terjadi
pencernaan yang paling aktif dengan proses hidrolisis dari nutrien kasar berupa
pati, lemak, dan protein. Penyerapan hasil akhir dari proses ini sebagian besar
terjadi di duodenum. Duodenum merupakan tempat sekresi enzim dari pankreas dan
getah empedu dari hati. Getah empedu mengandung garam empedu dan lemak dalam
bentuk kholesitokinin-pankreosimin berisi kolesterol dan fosfolipid. Menurut
Usman (2010), duodenum berbentuk loop melingkari pankreas berakhir di saluran
dari hati dan pankreas masuk ke usus halus.

            Jejunum dan ileum meupakan
kelanjutan dari duodenum.
Pada bagian ini proses pencernaan dan penyerapan zat makanan yang belum
diselesaikan pada duodenum dilanjutkan sampai tinggal bahan yang tidak dapat
tercerna. Diantara jejenum dan ileum terdapat suatu
pembatas yang berbentuk seperti kutil yang disebut dengan micele divertikum. Menurut Yaman (2010), pembatas
antara Jejunum dan
ileum disebut micele divertikum yang ditandai dengan adanya
bintil pada permukaan. Menurut Usman (2010), persimpangan antara jejenum dan
ileum nampak kurang jelas, namun dapat dilihat dengan adanya diventrikulum yang
nampak di permukaan. Ileum memanjang dari diventrikulum sampai
persimpangan ileo-caecal­, dimana dua seka
bersatu dengan usus.

2.6
Histologi

Histologi adalah ilmu tentang jaringan dan cara jaringan ini menyusun
organ-organ. Akar kata yunani histo dapat diterjemahkan sebagai jaringan atau
jaring karena kebanyakan jaringan merupakan jaring filament dan serat yang saling terjalin, baik selular maupun
non-selular, dengan lapisan membranosa.
Histologi mencakup semua aspek biologi jaringan, yang berfokus pada mekanisme
susunan dan struktur sel dalam mengoptimalkan fungsi yang spesifik untuk setiap
organ (Anthony, 2002).

Histopatologi adalah cabang ilmu histologi yang mempelajari kondisi
dan fungsi jaringan dalam hubungannya dengan penyakit.
Histopatologi sangat penting dalam kaitannya dengan diagnosis penyakit karena salah satu
pertimbangan dalam penentuan diagnosis adalah melalui hasil pengamatan terhadap
jaringan yang diduga terganggu. Histopatologi dapat dilakukan dengan mengambil
sampel jaringan atau dengan mengamati jaringan setelah kematian terjadi. Dengan
membandingkan kondisi jaringan sehat terhadap jaringan sampel dapat diketahui
apakah suatu penyakit yang diduga benar-benar menyerang atau tidak (Adiwidjaya dkk., 2008).

Marie François Xavier Bichat (1771-1802), seorang ahli patologi
Perancis, atau yang sering disebut bapak histologi ini adalah orang pertama
yang secara sistematis mempelajari jaringan yang dianggap sebagai blok penyusun
unsur tubuh. Namun, dalam penelitiannya Bichat tidak menggunakan mikroskop
melainkan pembedahan/ pemotongan dan berhasil mengidentifikasi 21 jaringan yang
kemudian disebut sebagai 21 jaringan Bichat. Akan tetapi, histologi modern kini
lebih mengenal empat macam jaringan, yaitu jaringan ikat, otot, saraf, dan
epitel (Bajpai, 1988)..

Tujuh belas tahun setelah kematian Bichat, 1819, August
Mayer(1787-1865) menciptakan istilah histologi yang berarti studi tentang
jaringan tubuh yang berasal dari bahasa Yunani yaitu histos (jaringan) dan
logos (ilmu). Kemudian Richard Owen (1804-1892), seorang palaentologis Inggris
merekomendasikan agar penggunaan istilah histologi digunakan secara
meluas.  Perkembangan selanjutnya, pada
tahun 1852 Rudolph von Kölliker (1817-1905), seorang profesor anatomi Swiss
menjadi orang pertama yang mempublikasikan buku tentang histologi yang berjudul
“Handbuch der Gewebelehre” (Bajpai, 1988).

Proses
Pembuatan Preparat Histologi (Muntiha, 2001):

1.      Memotong jaringan organ: Setelah jaringan organ yang
berada di dalam larutan fiksatif matang, jaringan ditiriskan pada saringan
selanjutnya dipotong menggunakan pisau scalpel dengan ketebalan 0,3 – 0,5 mm
dan disusun ke dalam tissue cassette,
kemudian sejumlah tissue cassette
dimasukkan ke dalam keranjang khusus (basket).

2.      Proses dehidrasi: Keranjang (basket) yang di dalamnya
berisi jaringan organ, dimasukkan ke dalam mesin processor otomatis (Gambar 1).
Selanjutnya jaringan mengalami proses dehidrasi bertahap dengan putaran waktu
sebagai berikut: etanol 70% (2 jam) etanol 80% (2 jam) etanol 90 % (2 jam)
etanol absolut (2 jam) etanol absolut (2 jam) xylol (2 jam) xylol (2 jam)
parafin cair (2 jam) paraffin cair (2jam). Selanjutnya keranjang yang berisi tissue cassette dikeluarkan untuk
dilakukan proses berikutnya.

3.      Vakum: Setelah proses dehidrasi dilakukan, kemudian
dilanjutkan dengan penghilangan udara dari jaringan dengan menggunakan mesin
vakum yang di dalammya terdapat tabung untuk menyimpan keranjang yang diisi
parafin cair dengan temperatur (59 – 60°C) di vakum selama 30 menit. Keranjang
diangkat, tissue cassette dikeluarkan
dan disimpan pada temperatur 60° C untuk sementara waktu sebelum pencetakan
dilakukan dengan parafin cair.

4.      Mencetak blok paraffin: Cetakan dari bahan stainles steel dihangatkan di atas api
bunsen, lalu ke dalam setiap cetakan dimasukkan jaringan sambil diatur dan
sedikit ditekan. Sementara ditempat lain telah disiapkan parafin cair dalam
tempat khusus, sehingga dicapai suhu 60°C. Parafin cair tersebut dituangkan ke
dalam jaringan sampai seluruh jaringan terendam parafin. Parafin dibiarkan
membeku di atas mesin pendingin. Selanjutnya blok parafin dilepas dari cetakan
dan disimpan difreezer (-20°C)
sebelum dilakukan pemotongan.

5.      Memotong blok jaringan: Blok parafin yang mengandung
jaringan, kemudian dipotong dengan menggunakan mesin mikrotom dengan ketebalan
berkisar 3 – 4 mm. Potongan tersebut diletakkan secara hati-hati di atas
permukaan air dalam waterbath bersuhu 46° C . Pada kesempatan ini bentuk irisan
dirapikan, kemudian diletakkan di atas kaca obyek yang telah diolesi ewith, yang berfungsi sebagai bahan
perekat. Kaca obyek dengan jaringan di atasnya disusun di dalam rak khusus dan
dimasukkan ke dalam inkubator bersuhu 60°C sampai preparat siap untuk diwamai.

6.      Proses pewarnaan hematoksilin dan eosin: Preparat yang
akan diwarnai diletakkan pada rak khusus clan,
dicelupkan secara berurutan ke dalam larutan dengan waktu sebagai berikut:
Xylol 3 menit, Xylol 3 menit, Etanol absolut 3 menit, Etanol absolut 3 menit,
Etanol 90% 3 menit, Etanol 80% 3 menit, Bilas dengan air keran 1 menit, Larutan
hematoksilin 6-7 menit, Bilas dengan air keran 1 menit, Larutan pembiru 1
menit, Air keran 1 menit, larutan eosin 1 – 5 menit, Bilas dengan air keran 1
menit, Etanol 80 % 10 celupan, Etanol 90 % 10 celupan, Etanol absolut 10
celupan, Etanol absolut 1 menit, Xylol 3 menit, Xylol 3 menit, Xylol 3 menit.
Preparat diangkat satu persatu dari larutan xylol dalam keadaan basah, diberi
satu tetes cairan perekat (DPX) dan selanjutnya ditutup dengan kaca penutup.
Hasil pewarnaan dapat dilihat di bawah mikroskop.