Latar Hal tersebut dikarenakan dapat mempengaruhi pembentukan

Latar BelakangProses pendidikan dalam mengembangkan anak lebih baik dilakukan pada masa usia dini. Pada masa usia dini merupakan masa yang tepat untuk anak dalam mengenali segala bentuk fakta yang ada di sekitar lingkungan tempatnya sebagai stimulant dalam perkembangan kepribadian, bahasa, psikomotor, kognitif dan sosial.1 Anak usia dini sering sekali menirukan berbagai hal yang dilihat, dirasakan maupun didengarnya di sekitar lingkungan. Hal ini dikarenakan anak belum bisa mengetahui baik atau buruknya yang dilihat, dirasakan maupun didengarnya. Maka dari itu, masa usia dini merupakan masa yang rentan terhadap sebuah pengaruh dari lingkungansekitarnya. Akan tetapi, hal tersebut dapat dimanfaatkan bagi suatu lingkungan yang dalam hal ini ialah orang tua serta guru untuk mengembangkan potensi yang ada pada anak sebaik mungkin dengan menyediakan suatu lingkungan atau suatu tempat kegiatan yang sesuai dengan perkembangan anak itu sendiri.Potensi penalaran anak terhadap moral sangat perlu diperhatikan. Hal tersebut dikarenakan dapat mempengaruhi pembentukan suatu karakter anak.2 Maka dari itu, penting sekali mengembangkan nilai-nilai moral pada anak usia dini. Nilai merupakan sebuah harga ataudiyakini sebagai hal yang berguna bagi manusia, sedangkan moral diartikan sebagai kebiasaan bertingkah laku dengan baik atau berperilaku baik. Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwapengembangan nilai moral merupakan suatu pembentukan perilaku anak dengan cara kebiasaanyang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut agar anak sedini mungkin mempersiapkan diri dalam mengembangkan sikap dan perilaku yang dilandasi dengan moral pancasila.3Dapat membedakan mana hal-hal baik dan buruk memperlihatkan nilai-nilai moral yang dimiliki pada diri seorang anak. Maka dari itu, mengembangkan nilai-nilai moral pada anak usia dini diupayakan menggunakan cara yang tepat supaya pesan-pesan moral yang disampaikan tidak terhambat bagi anak dalam penerimaannya. Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan metode storytelling atau mendongeng dalam pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini.Menanamkan nilai-nilai luhur pada anak, para orang tua biasanya menggunakan metode storytelling atau mendongeng dalam hal mendidik anaknya. Storytelling atau mendongeng identik dengan cerita mitos maupun cerita yang dijadikan sebagai pengantar tidur bagi anak. Selain itu, storytelling atau mendongeng diartikan berbagai kejadian nyata lalu dikemas sedemikian rupa dengan menggunakan bantuan dari sebuah teknologi sehingga menjadikannya sesuatu yang menarik dan kaya akan pesan moral.4Pemilihan storytelling atau mendongeng bagi anak usia dini harus diperhatikan. Oleh karena itu, memilih dongeng yang berisi nasehat, bimbingan, maupun pesan moral akan lebih berguna bagi kehidupan anak itu sendiri. Dalam hal ini, storytelling atau mendongeng menduduki ranking teratas dalam mengubah sikap atau perilaku anak dengan cara yang membuat mereka senang, mengembangkan imajinasi anak, mengekspresikan diri anak, mengasah emosional anak dan memperkaya ilmu pengetahuan anak terhadap lingkungan sekitarnya.5Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mendefinisikan bahwa metode storytelling atau mendongeng adalah sebuah cerita yang disampaikan melalui tutur kata atau penjelasan secara lisan kepada anak dalam memperkenalkan suatu hal baru yang belum diketahui sebelumnya. Seorang guru harus paham terlebih dahulu terhadap nilai-nilai moral yang akan disampaikannya melalui storytelling atau mendongeng kepada murid-murid. Selain itu juga, ia harus menguasai teknik yang baik dalam bercerita. Hal tersebut dipercaya akan merubah sikap atau perilaku anak menjadi lebih baik dari keseharian yang dilakukan sebelumnya. Dengan demikian, metode storytelling atau mendongeng mampu menjadi sebuah metode yang efektif digunakan dalam hal pengembangan nilai-nilai moral bagi anak usia dini jika diterapkan secara tepat dan sesuai.Akan tetapi, kenyataannya masih banyak nilai-nilai moral belum berkembang baik pada anak usia dini, seperti masih banyak anak yang kurang menghormati gurunya, tidak menggunakan pakaian dengan rapi, membuang sampah tidak pada tempatnya, bersikap kasar, kurang bertanggung jawab dan kurang menghargai antar teman. Masalah tersebut disebabkan oleh kurangnya fasilitas yang disediakan, seperti buku cerita maupun bergambar, permainan dengan boneka tangan sebagai alatnya, serta metode yang tidak beragam dan kurang tepat yang menyebabkan timbulnya perasaan bosan bagi anak.Dengan demikian, memecahkan masalah dari penjelasan di atas dapat dilakukan menggunakan metode storytelling atau mendongeng dalam pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini. Hal tersebut dianggap akan jauh lebih efektif terlebih diterapkannya secara tepatdan sesuai. Semoga penelitian yang berjudul “Pengembangan Nilai-nilai Moral pada Anak Usia Dini Melalui Metode Storytelling” bermanfaat dalam mengembangkan nilai-nilai moral pada anak usia dini serta menambah pengetahuan khususnya bagi para guru dan orang tua.B. Tujuan PenelitianTujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:1. Untuk mengetahui penerapan metode storytelling atau mendongeng dalam pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini.2. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini melalui penerapan metode storytelling atau mendongeng.C. Metode PenelitianJenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penelitian deskriptif adalah mendeskripsikan atau menjelaskan sesuatu hal seperti apa adanya merupakan tujuan dalam sebuah penelitiannya.6 Dalam memilih pendekatan penelitian harus sesuai dengan jenis penelitian yang digunakan. Pada penelitian ini, yaitu menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan dengan tujuan untuk mengetahui makna yang sebenarnya dari berbagai fakta yang ada. Data dalam penelitian ini dikumpulkan berdasarkan data primer. Data primer adalah data yang diambil langsung dari sumbernya tanpa perantara. Sumbernya dapat berupa manusia, situs website maupun benda-benda. Pada kesempatan ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara.a. Observasi yaitu sebuah teknik pengumpulan data dengan menggunakan cara terstruktur dan sengaja dilakukan dengan cara melakukan pengawasan dan pencatatan dari berbagai fenomena yang ada. Wawancara yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti dalam mendapatkan fakta-fakta secara lisan melalui percakapan dan langsung bertatap muka dengan orang yang dijadikan sumber informasi.7D. Hasil dan Pembahasan1. Hasil Hasil yang didapat dari suatu observasi mengungkapkan bahwa suatu metode storytelling atau mendongeng dapat dilakukan oleh para guru dengan syarat harus mengacu pada topik pembahasan yang terdapat dalam silabus mata pelajaran. Anak lebih mudah memahami cerita yang disampaikan oleh guru dibandingkan harus membaca cerita sendiri. Berdasarkan hasil wawancara dari salah satu guru sekolah dasar, bahwa ia menyatakan:a. Sebelum menggunakan metode storytelling atau mendongeng biasanya melalui metode pembiasaan, metode demonstrasi, dan metode bermain dalam pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar. Pada dasarnya sudah cukup baik tetapi masih sangat rendah dalam mengembangkan nilai moral anak. Maka dari itu, digunakanlah metode storytelling atau mendongeng. Setelah dilaksanakan metode tersebut terjadilah sebuah perubahan yang melonjak tinggi terhadap sikap dan perilaku anak atau siswa tersebut.b. Sebuah kemampuan mengalami pengembangan berupa pengetahuan baru bagi anak berkat diterapkannya metode storytelling atau mendongeng pada anak usia dini. Supaya mendongeng lebih menyenangkan bagi anak maka pada saat mendongeng harus sesuai dengan perkembangan anak itu sendiri, baik dari segi bahasa, media maupun tahapan-tahapan dalam pelaksanaannya.c. Beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan nilai-nilai moral melalui metodestorytelling atau mendongeng pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar yaitu sebagai berikut:1) Kurangnya tenaga kerja atau guru. Dibutuhkan beberapa guru, minimal dua orang guru dalam pelaksanaan metode storytelling atau mendongeng. Satu guru bertugas sebagai pencerita dan guru lainnya bertugas mendampingi dan mengatur anak-anak agar tetap kondusif, sehingga dalam pelaksanaan mendongeng dapat terlaksana dengan lancar. Selain itu, agar anak dapat tertarik terhadap cerita yang disampaikan, setiap guru diharuskan memiliki keterampilan seperti menggunakan berbagai jenis suara, ekspresif, serta menggunakan berbagai media salah satunya boneka jari atau tangan.2) Kurangnya fasilitas atau alat peraga yang menyebabkan guru harus menguasaiberbagai teknik dalam bercerita agar pesan moral yang ada dalam cerita bisa dipahami oleh anak.2. Pembahasana. Pengembangan Nilai-nilai Moral Nilai merupakan sebuah harga atau diyakini sebagai hal yang berguna bagi manusia. Sedangkan, moral adalah perubahan pikiran, anggapan, dan tingkah laku tentang standar mengenai benar dan salah. Standar benar dan salah yang mengatur perubahan pikiran, anggapan, dan tingkah laku ini menanjak berdasarkan lingkungan tempat yang ditinggali berkembang. Sehingga moral dapat juga dikatakan sebagai tradisi atau kebiasaan. Selain itu moral juga dikatakan sebagai tatanan atau aturan. Moral dapat disimpulkan sebagai kondisi pikiran, anggapan, dan tingkah laku manusia yang melekat dengan nilai-nilai baik dan buruk. Amoral merupakan sebutan bagi manusia yang tidak memiliki moral. Artinya manusia tersebut tidak memiliki nilai baik dipandangan manusia lainnya. Maka dari itu, setiap manusia harus memiliki moral.Dengan demikian, pengembangan nilai moral merupakan pembentukan pikiran, anggapan, dan tingkah laku melalui pembiasaan diri dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut untuk mengonsepkan anak sedini mungkin dalam mengembangkan sikap dan perilaku sesuai pancasila. Pada dasarnya pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar menggunakan metode pembiasaan, metode demonstrasi, dan metode bermain sudah cukup baik, tetapi ketika menggunakan metode storytellingatau mendongeng terjadi sebuah perubahan yang meningkat tinggi terhadap sikap dan perilaku anak atau siswa.b. Metode Storytelling atau Mendongeng Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mendefinisikan bahwa metode storytelling atau mendongeng adalah sebuah cerita yang disampaikan melalui tutur kata atau penjelasan secara lisan kepada anak dalam memperkenalkan suatu hal baru yang belum diketahui sebelumnya. Metode storytelling atau mendongengini lebih banyak digunakan karena anak-anak lebih senang jika mendengarkan gurunya bercerita daripada harus membaca ceritanya sendiri. Supaya mendongeng lebih menarik perhatian anak maka pada saat mendongeng harus dipilihkan cerita yang sesuai denganusia anak dan kesukaan anak diusianya. Selain itu cerita yang dipilih harus berisikannilai-nilai moral yang nantinya akan merubah perkembangan anak itu sendiri.Sebuah kemampuan mengalami pengembangan berupa pengetahuan baru bagi anakberkat diterapkannya metode storytelling atau mendongeng pada anak usia dini. Supaya mendongeng lebih menyenangkan bagi anak maka pada saat mendongeng harus sesuai dengan perkembangan anak itu sendiri, baik dari segi bahasa, media maupun tahapan-tahapan dalam pelaksanaannya. Penerapan metode storytelling atau mendongeng pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar dapat dilakukan dimana saja, sesuai dengan kebutuhan, keinginan dan kondisi yang ada.c. Peranan Metode Storytelling atau Mendongeng dalam Mengembangkan Nilai-Nilai Moral Storytelling atau mendongeng merupakan metode dari sekian banyak metode yang digunakan dalam hal pengembangan nilai-nilai moral anak usia dini. Melalui metode storytelling atau mendongeng, berbagai pesan moral untuk anak dapat disampaikan. Menurut Otib Satibi Hidayat, storytelling atau mendongeng dapat ditanamkan berbagai macam nilai moral, nilai agama, nilai sosial, nilai budaya, dan sebagainya. Sedangkan, Moeslichatoen menjelaskan bahwa, metode storytelling atau mendongeng adalah menanamkan pesan-pesan atau nilai-nilai sosial, moral, dan agama yang terdapat dalam sebuah cerita sesuai dengan tujuannya. Sebuah pikiran, anggapan dan tingkah laku anak dapat berubah karena metode storytelling atau mendongeng.Bercerita memiliki daya tarik tersendiri yang membuat anak menyukai dan memperhatikan. Melalui sikap-sikap dari tokoh yang ada dalam sebuah cerita dapat memberikan pengalaman dan pembelajaran moral bagi anak karena mereka telah merekam semua peristiwa dalam cerita. Supaya dapat mengetahui adanya peranan metode storytelling atau mendongeng dalam mengembangkan nilai-nilai moral pada anak usia dini atau anak sekolah dasar maka dilakukan sebuah pengamatan. Simpulan dan Saran1. SimpulanBerdasarkan hasil penelitian dan pembahasan penelitian tentang peranan metode storytelling atau mendongeng dalam mengembangkan nilai-nilai moral pada anak, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:a. Sebelum menggunakan metode storytelling atau mendongeng yaitu melalui metode pembiasaan, metode demonstrasi, dan metode bermain dalam pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar. Pada dasarnya sudah cukup baik tetapi masih sangat rendah dalam mengembangkan nilai moral anak. Maka dari itu, digunakanlah metode storytelling atau mendongeng. Setelah dilaksanakan metode tersebut terjadilah sebuah perubahan yang melonjak tinggi terhadap sikap dan perilaku anak atau siswa tersebut.b. Sebuah kemampuan mengalami pengembangan berupa pengetahuan baru bagi anak berkat diterapkannya metode storytelling atau mendongeng pada anak usia dini. Supaya mendongeng lebih menyenangkan bagi anak maka pada saat mendongeng harus sesuai dengan perkembangan anak itu sendiri, baik dari segi bahasa, media maupun tahapan-tahapan dalam pelaksanaannya.c. Beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan nilai-nilai moral melalui metodestorytelling atau mendongeng pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar yaitu sebagai berikut:1) Kurangnya tenaga kerja atau guru. Dibutuhkan beberapa guru, minimal dua orang guru dalam pelaksanaan metode storytelling atau mendongeng.2) Kurangnya fasilitas atau alat peraga yang menyebabkan guru harus menguasaiberbagai teknik dalam bercerita agar pesan moral yang ada dalam cerita bisa dipahami oleh anak.2. SaranAdapun beberapa saran dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut: a. Diharapkan agar para guru menggunakan bantuan alat peraga, salah satunya boneka tangan untuk menarik perhatian anak dalam mendengarkan cerita.b. Diharapkan bagi para orang tua agar mengajarkan anak nilai-nilai moral di rumah setiap harinya, seperti membacakan cerita yang berisikan nilai moral dan bukan hanya mengandalkan sekolah saja.c. Diharapkan bagi para peneliti lain, hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dalam menyusun penelitian selanjutnya bagi yang sama maupun berbeda.